Budidaya kambing Peranakan Etawa (baca: PE) memiliki prospek ekonomi yang cukup menggiurkan. Kambing PE bisa memproduksi susu, daging, dan postur tubuhnya yang kadangkala dilombakan dan karena itu harganya jadi mahal. Permintaan daging, dan konsumsi susu nasional yang belum terpenuhi secara maksimal bisa menjadi titik masuk bagi prospek ekonomi budaya kambing PE.
Secara geneologi, kambing ini berasal dari India yang dibawah oleh penjajah di masa kolonial yang dikawinkan dengan kambing lokal Indonesia. Ciri-ciri kambing PE yaitu: Bentuk kepala bagian hidung ke atas melengkung atau cembung, telinga panjang menggantung ke bawah, bulu yang indah dan warnanya beragam dari belang putih, merah coklat, bercak hitam atau kombinasi ketiganya, pada bagian belakang memiliki bulu yang panjang dan tebal.
Kenapa Selayar?
Pertanyaannya kenapa Selayar yang harus menjadi kawasan pengembangan budidaya PE? Walau pun secara sosiologis, masyarakat Selayar tumbuh dalam tradisi kemaritiman, tapi sebagian diantaranya berciri kontinen. Mereka adalah masyarakat perdesaan yang hidup dari bertani dan beternak. Konteks tersebut harus dibaca oleh pengambil kebijak di Kabupaten Kepulauan Selayar dalam mengembangkan peternakan rakyat.
Posisi geostrategis Selayar mestinya dimamfaatkan secara maksimal dalam pemasaran dan mengambil posisioning sebagai produsen bibit (breeder). Karena selama ini, produsen kambing PE masih didominasi di pulau Jawa. Kalau Selayar tumbuh menjadi produsen, maka kambing PE yang dari Selayar bisa dilempar ke pasar Sulawesi dan Nusatenggara yang masih terbuka lebar.
Sekarang persoalannya ialah, bagaimana membangun prasyarat budaya yang diperlukan dalam upaya menjadikan Selayar sebagai produsen kambing PE. Pertama, perlu adanya studi-studi empiris yang bisa memetakan kemungkinan-kemungkinan pengembangan
peternakan PE ini. Studi-studi tersebut berkaitan dengan ragam dimensi dalam masyarakat.
Kedua, mengorganisir peternak kambing menjadi kelompok-kelompok yang diharapkan menjadi pilar pengembangan PE dengan stakeholder lainnya.
Ketiga, membangun kesadaran kritis peternak yang berarti pula membangun budaya pengelolaan ternak yang selama ini dilakukan secara tradisional.
Jika dua prasyarat tersebut diatas bisa dilakukan, maka aktivitas piloting sudah bisa dilakukan. Dalam mendrive kegiatan ini, pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan harus membuka kemungkinan kemitraan strategis dengan kampus sebagai sumber teknologi yang penting.
Jika ini bisa dilakukan, maka paling tidak, 10 sampai 15 tahun, Selayar bisa memainkan posisi penting dalam pasar kambing PE yang brandnya di pegang oleh Kaligesing, Jawa Tengah.
Secara geneologi, kambing ini berasal dari India yang dibawah oleh penjajah di masa kolonial yang dikawinkan dengan kambing lokal Indonesia. Ciri-ciri kambing PE yaitu: Bentuk kepala bagian hidung ke atas melengkung atau cembung, telinga panjang menggantung ke bawah, bulu yang indah dan warnanya beragam dari belang putih, merah coklat, bercak hitam atau kombinasi ketiganya, pada bagian belakang memiliki bulu yang panjang dan tebal.
Kenapa Selayar?
Pertanyaannya kenapa Selayar yang harus menjadi kawasan pengembangan budidaya PE? Walau pun secara sosiologis, masyarakat Selayar tumbuh dalam tradisi kemaritiman, tapi sebagian diantaranya berciri kontinen. Mereka adalah masyarakat perdesaan yang hidup dari bertani dan beternak. Konteks tersebut harus dibaca oleh pengambil kebijak di Kabupaten Kepulauan Selayar dalam mengembangkan peternakan rakyat.
Posisi geostrategis Selayar mestinya dimamfaatkan secara maksimal dalam pemasaran dan mengambil posisioning sebagai produsen bibit (breeder). Karena selama ini, produsen kambing PE masih didominasi di pulau Jawa. Kalau Selayar tumbuh menjadi produsen, maka kambing PE yang dari Selayar bisa dilempar ke pasar Sulawesi dan Nusatenggara yang masih terbuka lebar.
Sekarang persoalannya ialah, bagaimana membangun prasyarat budaya yang diperlukan dalam upaya menjadikan Selayar sebagai produsen kambing PE. Pertama, perlu adanya studi-studi empiris yang bisa memetakan kemungkinan-kemungkinan pengembangan
peternakan PE ini. Studi-studi tersebut berkaitan dengan ragam dimensi dalam masyarakat.
Kedua, mengorganisir peternak kambing menjadi kelompok-kelompok yang diharapkan menjadi pilar pengembangan PE dengan stakeholder lainnya.
Ketiga, membangun kesadaran kritis peternak yang berarti pula membangun budaya pengelolaan ternak yang selama ini dilakukan secara tradisional.
Jika dua prasyarat tersebut diatas bisa dilakukan, maka aktivitas piloting sudah bisa dilakukan. Dalam mendrive kegiatan ini, pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan harus membuka kemungkinan kemitraan strategis dengan kampus sebagai sumber teknologi yang penting.
Jika ini bisa dilakukan, maka paling tidak, 10 sampai 15 tahun, Selayar bisa memainkan posisi penting dalam pasar kambing PE yang brandnya di pegang oleh Kaligesing, Jawa Tengah.

