Selamat Datang

Kabupaten Kepulauan Selayar adalah salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan. Terletak di ujung selatan Pulau Sulawesi. Selayar memiliki keunikan karena satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Selatan yang seluruh wilayahnya terpisah dari daratan pulau Sulawesi, terdiri atas gugusan pulau-pulau dengan jumlah 123 buah baik pulau-pulau besar maupun kecil yang tak berpenghuni.

Blog ini didedikasikan sebagai pusat informasi berkaitan dengan pariwisata di Kabupaten Selayar. Wassalam.

Sabtu, 29 Mei 2010

Pengembangan Kambing Peranakan Etawa di Selayar

Budidaya kambing Peranakan Etawa (baca: PE) memiliki prospek ekonomi yang cukup menggiurkan. Kambing PE bisa memproduksi susu, daging, dan postur tubuhnya yang kadangkala dilombakan dan karena itu harganya jadi mahal. Permintaan daging, dan konsumsi susu nasional yang belum terpenuhi secara maksimal bisa menjadi titik masuk bagi prospek ekonomi budaya kambing PE.

Secara geneologi, kambing ini berasal dari India yang dibawah oleh penjajah di masa kolonial yang dikawinkan dengan kambing lokal Indonesia. Ciri-ciri kambing PE yaitu: Bentuk kepala bagian hidung ke atas melengkung atau cembung, telinga panjang menggantung ke bawah, bulu yang indah dan warnanya beragam dari belang putih, merah coklat, bercak hitam atau kombinasi ketiganya, pada bagian belakang memiliki bulu yang panjang dan tebal.

Kenapa Selayar?
Pertanyaannya kenapa Selayar yang harus menjadi kawasan pengembangan budidaya PE? Walau pun secara sosiologis, masyarakat Selayar tumbuh dalam tradisi kemaritiman, tapi sebagian diantaranya berciri kontinen. Mereka adalah masyarakat perdesaan yang hidup dari bertani dan beternak. Konteks tersebut harus dibaca oleh pengambil kebijak di Kabupaten Kepulauan Selayar dalam mengembangkan peternakan rakyat.

Posisi geostrategis Selayar mestinya dimamfaatkan secara maksimal dalam pemasaran dan mengambil posisioning sebagai produsen bibit (breeder). Karena selama ini, produsen kambing PE masih didominasi di pulau Jawa. Kalau Selayar tumbuh menjadi produsen, maka kambing PE yang dari Selayar bisa dilempar ke pasar Sulawesi dan Nusatenggara yang masih terbuka lebar.

Sekarang persoalannya ialah, bagaimana membangun prasyarat budaya yang diperlukan dalam upaya menjadikan Selayar sebagai produsen kambing PE. Pertama, perlu adanya studi-studi empiris yang bisa memetakan kemungkinan-kemungkinan pengembangan
peternakan PE ini. Studi-studi tersebut berkaitan dengan ragam dimensi dalam masyarakat.

Kedua, mengorganisir peternak kambing menjadi kelompok-kelompok yang diharapkan menjadi pilar pengembangan PE dengan stakeholder lainnya.

Ketiga, membangun kesadaran kritis peternak yang berarti pula membangun budaya pengelolaan ternak yang selama ini dilakukan secara tradisional.

Jika dua prasyarat tersebut diatas bisa dilakukan, maka aktivitas piloting sudah bisa dilakukan. Dalam mendrive kegiatan ini, pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan harus membuka kemungkinan kemitraan strategis dengan kampus sebagai sumber teknologi yang penting.

Jika ini bisa dilakukan, maka paling tidak, 10 sampai 15 tahun, Selayar bisa memainkan posisi penting dalam pasar kambing PE yang brandnya di pegang oleh Kaligesing, Jawa Tengah.

Penerbangan Ke Selayar

Sayup-sayup lagu-lagu Iwan Fals terdengar dari PC yang pagi ini saya setel. Saya memang penikmat lagu-lagunya yang kritis, sarat makna itu. Ditemani minuman STMJ yang kubeli kemarin di Kopma UGM. Saya kembali menyuri lorong-lorong maya. Kubaca tribun timur dan fajar. Sebagai anak rantau, tentu saya terus mengikuti perkembangan di kampung. Dan kedua portal online itulah yang bisa menyuguhkan informasi teranyar dari kampung.


Saya berselancar di portal tribun timur, disamping membaca opini. Juga membaca headline portal itu. Tidak ketinggalan juga menengok pojok PSM. Tim kebanggaan saya. Meski pun orang banyak yang skeptis, apalagi prestasi pasukang raman akhir-akhir ini memang mengalami masalah. Ya, harus dimaknai positif saja, tidak semua tim memiliki prestasi yg linear. Yang penting etos kareso (bekerja keras) senantiasa menancap.

Disalah satu rubrik tribun, saya membaca judul "Merpati Buka Rute Selayar dan Toraja". Saya perhatikan baik-baik berita itu, saya baca pelan-pelan. Memori saya terbang ke suatu masa, ketika itu era 89 atau 90-an. Begitu terisolasinya Kabupaten ini pada tahun-tahun 80-an. Sebelum dermaga penyeberangan di bangun tahun 1984 di pamatata, akses ke Makassar hanya bisa ditempuh lewat laut. Kapal layar atau mesin.

Selama berpuluh-puluh tahun Selayar dalam keterisolasian. Tahun 1995 menjadi awal bagi terjadinya perubahan yang relatif baik. DPRD Kab. Selayar memilih Drs. H.M. Akib Patta sebagai Bupati bagi kabupaten kepulauan itu. Mantan Ketua HMI Cab. Makassar yang memiliki visi dan keberanian menggebrak pola pikir orang Selayar. Pikirannya sederhana kala itu, tidak mungkin kita berubah kalau kita terisolasi, tidak ada infrastruktur. Tidak mungkin masyarakat bisa menikmati hasil budidaya pertaniannya kalau transportasi ke wilayah-wilayah perkebunan dan pertanian tidak dibuka.

Atas pikiran itulah, ia memulai proyek-proyek ambisiusnya. Ia berjalan keliling kampung, masuk hutan guna melihat secara langsung kemungkinan proyek tersebut. Ia memulai dengan proyek jalan lingkar di Selayar bagian timur. Sesuatu yang kala itu hampir tidak terpikirkan oleh orang. Tapi ia yakin bahwa ini bisa dilakukan. Kini masyarakat menikmati jalan itu, tidak lagi memikul hasil panen dengan jarak tempuh puluhan kilometer.

Setelah jalan, ia pun merencanakan pembukaan pelabuhan di pantai timur, perbaikan pelabuhan penyeberangan di Pamatata, perbaikan pelabuhan Benteng dan pembangunan Bandara perintis di Padang. Kota kemudian ia tata, ia panggil ahli geodasi untuk membuat master plan Benteng.

Alhamdulillah kini semua usaha itu sudah pelan tapi pasti dinikmati banyak orang. Terlepas kemudian beliau tidak happy ending dalam kepemimpinannya. Itu tidak terlepas dari situasi politik dan pengkhianatan orang-orang yang selama ini ia anggap mitra. Terlepas dari kekurangan beliau, kita harus angkat topi dan apresiasi kepada beliau.

Kembali ke soal Bandara, insya Allah atas kinerja pemerintah dan di fasilitasi oleh seorang kader PAN dari dapil I (Ir. Abdul Hadi Djamal, MM) yang kini dikomisi V DPR R.I. bandara tersebut terus dibenahi. Saya menyebut namanya karena ia memiliki peran yang signifikan bagi pembangunan infrastruktur di Selawesi Selatan, khususnya di Dapilnya. Kepada warga selayar inilah pilihan kita.

Saat ini bandara yang awalnya perintis sudah ditingkatkan statusnya menjadi bandara yang bisa didarati oleh pesawat besar. Merpati salah satu diantaranya, rutenya pun mulai tahun ini dikembangkan yang selama ini hanya melayani Selayar - Makassar. Kini sudah mengcover Bali - Selayar - Makassar, kemudian Lombok - Selayar - Makassar. Terima kasih untuk mereka yang telah berjasa dan memiliki prakarsa.